Posts

Cerita Pandemi

  Bicara soal Rabu malam yang menyegarkan, juga sinyalmu yang terputus minta disambungkan. Sementara daya ponselku yang habis minta di isi. Loh, obrolan kita belum selesai. Meski lima setengah jam habis sudah ku lalui bersamamu di telepon   Kamu bertanya, mau dilanjut kapan? Ku bilang besok pagi saja kita sambung lagi ya? Kemudian berebut mau memutuskan sambungan.   Dipikir - pikir lucu juga, semenjak kita tidak bersua. Hidungmu tak lagi jadi tridi . Rahangmu yang tegas tidak lagi bisa ku pukul, lalu tertawa mellihatmu yang kesal.   Pandemi, kapan selesai? Tidak sabar ku ajak dia jalan mencari lampu Malioboro. Kemudian duduk bersampingan di pinggir jalan sambil makan sate kesukaanmu. Yang sejak saat itu, jadi kesukaanku juga.   Ah, tapi aku tak suka disana. Dingin. Aku juga tidak suka pengamen yang membatasi perbincangan seru kita. Sukaku hanya bersua denganmu. Nanti ya! - Aini

Barangkali

Banyak kisah kita yang berantakan. Tentang bagaimana kita hadir di waktu yang salah tanpa paksaan. Lalu, siapa yang patut kita tuntu sayang? Aku? kamu? kita? atau, seluruh perasaan yang kita cipta? Mengertilah bahwa perasaan ini selaksa. Dekap dan terlelap di pelukmu yang terlanjur hangat. Kemudian aku dipenuhi rasa bersalah sebab mencintaimu. Bila kisahmu temaram, maka milikku juga. Bila kisahmu ikat lara, jadi milikku juga. Tolong beri aku aksama, agar bisa merakit kisah yang penuh harsa. Pada akhirnya kita sumarah. Menyerah. Saling mencintai di kala yang amat salah. Barangkali kita perlu waktu. Barangkali. Barangkali. Aku dan kamu. Jua barangkali, kita tak bisa jadi "kita" yang semestinya. - Aini

Apa yang sedang kamu suka, Tuan?

Apa yang sedang kamu suka dengan sepenuh hati, Tuan? Agar ku hidangkan dengan rindu yang terbiasa. Apa yang sedang kamu pikiran, Tuan? Agar kubantu menyelesaikan risau logikamu. Apa yang sedang kamu rindukan wahai Tuan? Agar sama - sama kita rakit rindumu jadi nyata. Apa  yang sedang kamu dambakan? Bukankah gadis cantik sebagai lakon utama di setiap cerita cintamu? Yang tentu saja bukan aku. Lalu kulihat di masa amarahmu. Penuh salah, marah dan darah. Dengan atau tanpa kata dan tatapmu, Aku lebih dari mengerti rasa dan karsamu. Kamu, simfoni. Menyamar menjadi siluet hitam pekat. Lekas, terbentur, terbentuk, kemudian menjadi utuh. Sungguh, apa yang bisa kubantu, Tuan? Jika harus memelukmu dalam diam-mu itu? - Aini

Catatan Mencintaimu, berhari - hari

Kamu tetap kamu. Yang telak mengerti bahasaku. Yang telak mengerti apa yang kuceritakan. Sayang, kau tak pandai memahami apa yang aku rasakan. Kita tetap berdua. Yang berjalan di tempat sekedar angan - angan. Tanpa kepastian, apalagi pembalasan. Halo, Aku paham bahwa kisah ini mungkin saja tidak menjanjikan akhir yang baik. Mungkin bukan aku, semua tujuan, cita dan cintamu. Entahlah, Kita bahkan tak pernah bisa beriringan. Bagaimana jika kita sesekali saling mengungkapkan? Bahwa aku mencintaimu tanpa berkala dan tak pernah aku paksakan. Tapi tenang sayang. Esok hari, jika kamu temukan kabar ia berhenti setelah mencintaimu berhari - hari, Ia sungguh - sungguh ingin melupa tanpa celah lagi. - Aini

Jeda, Hampir Jumpa.

Sejak sekiranya kamu kembali, Lalu kita rutin berwicara banyak kata. Kamu yang jadi alasan aku bahagia dengan segala yang kamu punya. Kamu mesti tak pernah menyukaiku. Kita hanya teman yang ditakdirkan saling menenangkan. Melipur lara yang kembali hadir. Tanpa tahu, untuk apa rasa ini dibentuk. Mengapa kamu tak pernah bisa jadi perasa? Tentang bagaimana aku mencintaimu tanpa jeda. Tentang bagaimana aku terus keluhkan kapan kita berjumpa. Kapan bisa ku ungkapkan padamu? Bahwa aku telah jatuh padamu, Kemudian mencintaimu dengan mubazir. Yang hilang waktu itu, kamu. Yang sibuk mencarimu, ya aku. -Aini

Si Tuan

Kita adalah sepi semesta. Yang memaksakan bertahan jadi alasannya. Tak pernah dikira - kira, bahwa aku akan jatuh pada tuan yang kepastiannya selalu kunantikan. Nyatanya jatuh padamu tak semudah itu. Berlalu, dengan banyak perjuangan. Terlebih, dasyatnya sakit berjuang sendirian. Bagaimana agar kamu tahu? Bahwa rasa ini tak pernah pura - pura. Bagaimana agar kamu mengerti? Bahwa rasa ini tak mudah pudar. Tuan, Tentang kisah dan cerita orang diluar sana. Yang tak jauh berbeda dengan kisah kita. Bisakah kita bertukar posisi? Biar kamu tahu, rasanya memperjuangkan. Biar jangan aku saja yang berperang perasaan. Maaf tuan, Aku yang belum bisa menerima, bahwa kisah ini terlanjur bertepuk sebelah tangan. - Aini