Posts

Tuan Maherat

Siang menyinsing seraya embun berpaling. Berhias peluh kala surya merajai mata angin. Buku lusuh meracau. Burung - burung berkicau. Aksara berhamburan. Inikah pertanda kehilangan?   Kuraih diksi yang enggan turun barang sekali. Sebab bosan di rangkai menjadi kalimat patah hati. Hingga sunyi beranjak pergi, sepi menghianati. Yang tersisa hanya ironi sebagai selimut diri.   Kini simfoni tak lagi berdendang di awal hari. Sapaan pengganggu mimpi tak lagi menyambangi. Hati berat sampai surya tenggelam di ufuk barat. Menjadi kisah penat dengan elegi yang melekat.   Harapan apalagi yang harus di perjuangkan? Takhta mana lagi yang menjadi kemenangan? Tak ada harap lingkup bahasa netra berpijak. Hanya ada semerbak rindu yang kian menjebak.   Aku semakin tersudut di ruang putus asa. Merajut dilema di pekatnya ruang tanpa cahaya. Elegi tercipta dari percikan bahasa netra. Melangit aksara-linang kehilangan muara.   Jika bisa kulampaui padatnya waktu dan ruang. Awal petaka ...

Agenda Rindu

Lama tidak bersua dengan mata pena. Sekedar merajut aksara di lembar putus asa. Resah, merayap pada lengan malam. Gelisah, rindu tak ada tempat untuk berpulang.   Aku melihatmu di antara semburat rembulan. Kala renung mengajakku terbang di rasi bintang. Mengangkasa seorang diri, menyusuri jejak sang tuan. Berharap ada setitik darinya yang terjatuh untuk kucuri.   Namun, suara kesepian kian mencekam. Gemirsik daunbersetubuh dengan angin malam. Gendang telinga dipenuhi nada perpisahan. Sedang muara tak mampu menampung elegi kejujuran.   Yang terjatuh seiring kabut berlabuh. Samar - samar embun menutup gaduh. Sampai bulan meninggalkan tempatnya. Dan rindu kian kuat di atas singgasana.   Mata itu, penyebab rindu kian memuncak. Pernah berpijak meski hanya tinggal sebuah jejak. Partitur senyap membungkam kesepian. Tuan, maaf jika rinduku tak berkesudahan.  - Aini

LawPhobia

Hukum di negeri ini lebih busuk dari kritik kapitalis Pasca meredupnya kobaran api gelora aktivis Berita sampah jadi pajangan layaknya obituari   Molotov terakhir terlempar di gedung hijau Ekonomi jadi alasan kejujuran di cekoki HAM menjadi tiga huruf penghias buku keadilan Meski sengsara tak berawal dari nyalak senapan   Istana hanya milik mereka penggiat korposial nasional Suap menjadikan rupa layaknya lubang sanggama binal Demi kedudukan, tahta, dan kemewahan Menjadi budak tetesan liur berahi uang jutaan dollar   Bertahun - tahun menggelandang Satu tahun mendekam Lex talionis menjadi kalimat tanpa arti Dongeng keadilan layaknya tali untuk gantung diri   Lebih baik bersujud di ranjang pelacuran Bukan pada kertas berisi tumpukan peraturan yang tidak berdasar pada Pancasila Yang disalahgunakan kumpulan para penghianat rakyat, kemudian mencekik keadilan sampai sekarat   Tulisan sampah ini hanya ilusi. Jika kita tidak cinta pada air mata ibu pertiwi, yang menangis...

Lepas Kagum

Aku mulai menepikan diri dari segala hingar bingar tentangmu. Menyimpan baik - baik rindu,  untuk sekali - kali kutengok saat sendiri. Aku paham betul, bayanganmu masih saja enggan beranjak dari ingatan. Memutar kembali deretan kisah yang nyaman menyebut dirinya kenangan.   Pun memastikan, untuk hati ini tak kembali merayap menuju gersang. Perlahan melangkah menjauh dari gelap petang. Sambil mengantongi percikan pecahan hati yang masih bisa kuselamatkan.   Sungguh, sudahlah redam semuanya. Bohongmu yang jadi kebenaran. Bawa sakit yang terbahak - bahak dalam tawa. Segalamu menjadi akar yang menusuk tanpa ampun.   Tuan, Puanmu kini menikmati sepi yang sudah berduyun mengantri jatah untuk ku penggal. Kau cukup diam,  nikmati waktu asikmu saat lidah - lidahmu itu melumat menjadi guratan basah tanda merah.   Lagi untukmu. Kiranya perlu tau, menuliskanmu adalah upaya mengosongkan hati dari yang segala hal yang bernapaskan udaramu.   Maka, silahkan kamu berbe...

Cerita Pandemi

  Bicara soal Rabu malam yang menyegarkan, juga sinyalmu yang terputus minta disambungkan. Sementara daya ponselku yang habis minta di isi. Loh, obrolan kita belum selesai. Meski lima setengah jam habis sudah ku lalui bersamamu di telepon   Kamu bertanya, mau dilanjut kapan? Ku bilang besok pagi saja kita sambung lagi ya? Kemudian berebut mau memutuskan sambungan.   Dipikir - pikir lucu juga, semenjak kita tidak bersua. Hidungmu tak lagi jadi tridi . Rahangmu yang tegas tidak lagi bisa ku pukul, lalu tertawa mellihatmu yang kesal.   Pandemi, kapan selesai? Tidak sabar ku ajak dia jalan mencari lampu Malioboro. Kemudian duduk bersampingan di pinggir jalan sambil makan sate kesukaanmu. Yang sejak saat itu, jadi kesukaanku juga.   Ah, tapi aku tak suka disana. Dingin. Aku juga tidak suka pengamen yang membatasi perbincangan seru kita. Sukaku hanya bersua denganmu. Nanti ya! - Aini

Barangkali

Banyak kisah kita yang berantakan. Tentang bagaimana kita hadir di waktu yang salah tanpa paksaan. Lalu, siapa yang patut kita tuntu sayang? Aku? kamu? kita? atau, seluruh perasaan yang kita cipta? Mengertilah bahwa perasaan ini selaksa. Dekap dan terlelap di pelukmu yang terlanjur hangat. Kemudian aku dipenuhi rasa bersalah sebab mencintaimu. Bila kisahmu temaram, maka milikku juga. Bila kisahmu ikat lara, jadi milikku juga. Tolong beri aku aksama, agar bisa merakit kisah yang penuh harsa. Pada akhirnya kita sumarah. Menyerah. Saling mencintai di kala yang amat salah. Barangkali kita perlu waktu. Barangkali. Barangkali. Aku dan kamu. Jua barangkali, kita tak bisa jadi "kita" yang semestinya. - Aini